3 Faktor Terpenting Mengapa Sarjana Banyak Yang Tidak Bekerja

Setiap tahun jumlah sarjana yang lulus dari berbagai perguruan tinggi jumlahnya hingga ribuan. Dari semua sarjana tersebut, tidak semuanya terserap oleh lapangan kerja yang ada. Sebagian besar, sarjana lulusan universitas atau pendidikan tinggi ini berakhir menjadi pengangguran. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah yang menyebabkan para sarjana yang pada dasarnya memiliki pendidikan tinggi ini hingga tidak bisa bekerja? Cek ulasan berikut ini.


Faktor Penting Pemicu Bertambahnya Sarjana Pengangguran

Tidak sedikit orang tua yang berharap anaknya akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak setelah ia lulus dari perguruan tinggi. Namun, kenyataan berkata sebaliknya. Hari demi hari hingga berbulan-bulan, si anak tidak juga kunjung mendapatkan pekerjaan. Berikut ini adalah tiga alasan paling penting mengapa sarjana muda tersebut tidak bekerja. Diantaranya adalah :

1. Terbatasnya lapangan kerja

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya manusia yang paling melimpah. Ribuan mahasiswa berganti status menjadi sarjana setiap tahunnya, namun tidak sampai 50% dari mereka yang kemudian memiliki Nomor Induk Karyawan (NIK). Salah satu penyebabnya adalah karena masih terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Indonesia tidak lagi banyak membuka pabrik-pabrik yang padat karya dan bisa menyerap ribuan tenaga kerja.

Pembukaan lapangan kerja adalah salah satu tugas yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Memberikan kesempatan para sarjana ini untuk lebih bisa mengembangkan diri dan terjun langsung mempraktekkan hasil belajar mereka selama di bangku perkuliahan.

2. Terbatasnya Skill namun Ekspektasi Tinggi

Sarjana masa kini lebih berorientasi pada nilai penghasilan yang akan mereka dapatkan dari pada jenis pekerjaan apa yang bisa mereka lakukan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Paradigma yang umum terjadi di masyarakat adalah dengan sekolah hingga jenjang yang tinggi akan menjadi jaminan mendapatkan pekerjaan yang baik. Itulah sebabnya mengapa para sarjana lebih cenderung untuk memilih pekerjaan dengan gaji yang tinggi atau pekerjaan di perusahaan-perusahaan ternama.

Selain ekspektasi tinggi dari para sarjana ini, mereka melupakan kenyataan bahwa mereka belum memiliki skill yang bagus yang bisa menjadi nilai jual pada perusahaan. Seperti yang kita ketahui, pendidikan universitas masih terfokus pada pengajaran teori dari pada pembentukan dan pelatihan skill. Itulah sebabnya, perusahaan pun melihat pada para lulusan sarjana baru ini sebagai sumber daya manusia yang masih sangat awam terhadap pengalaman bekerja.

Pada intinya, boleh saja menginginkan posisi bagus dan gaji yang tinggi, namun mereka juga harusnya menyadari kemampuan yang dimiliki untuk bisa memperoleh spesifikasi tersebut.

3. Sarjana berorientasi hanya menjadi karyawan

Banyak orang bilang bahwa menjadi sarjana pasti akan memiliki pekerjaan yang bagus. Itulah mengapa banyak sekali sarjana yang pemikirannya bahwa setelah ia lulus, ia harus bekerja pada sebuah perusahaan. Ia harus menemukan pekerjaan yang layak dan bisa dibanggakan.

Di sinilah kekurangan dari sarjana Indonesia. Mereka tercetak untuk menjadi karyawan. Berpuluh-puluh surat lamaran pekerjaan dibuat dan disebar begitu selesai proses wisuda. Rela mengantri berjam-jam untuk melakukan interview di satu atau dua perusahaan.

Mengapa terjadi demikian? Karena memang sarjana ini dibentuk untuk menjadi karyawan. Mereka tidak diajarkan untuk menjadi seorang wirausahawan yang berdiri di atas kaki sendiri. Mereka tidak dilatih untuk mengembangkan kemampuan diri sendiri dan mengekplorasi bakat dan minat sehingga bisa menghasilkan lapangan pekerjaan sendiri.

Di samping ketiga alasan penting di atas, masih banyak lagi alasan yang lainnya seperti dorongan diri sendiri, kondisi lingkungan dan lain sebagainya. Namun, ketiga alasan diatas bisa dikatakan sebagai alasan utama dan paling penting sebagai dasar mengapa banyak sarjana yang tidak bekerja.